3.1.a.9. Koneksi Antarmateri
Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Salam bahagia buat seluruh rekan guru setanah air...
Semangat tergerak... bergerak... dan menggerakkan...
Salam dari saya Elina Dona guru SDN 95 Pekanbaru. Saya adalah calon guru penggerak angkatan 4.
Kali ini saya akan menulis tentang koneksi antar materi-materi yang telah saya pelajari dalam pendidikan calon guru penggerak.
Adapun Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara dikenal dengan pemikirannya filosofi Pratap Triloka yang
terdiri atas tiga semboyan yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun
karsa dan Tut wuri handayani. semboyan tersebut artinya adalah di depan memberi
teladan, di tengah membangun motivasi, dan di belakang memberikan dukungan. Semboyan
Tut wuri handayani dijadikan sebagai slogan Kementerian Pendidikan Nasioanal
Indonesia. Makna dari semboyan tersebut adalah bahwa seorang guru tidak lagi
berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan melainkan menjadi fasilitator
bagi siswa dalam mencari pengetahuan. Harus mampu menjadi teladan, memotivasi,
dan memberi dukungan sepenuhnya kepada muridnya dalam upaya mengembangkan
potensi yang dimiliki murid sesuai dengan kodrat zamannya. Maka dalam hal ini,
guru harus mampu mampu menjadi teladan baik dalam sikap, perbuatan dan
perkataan. Seluruh hidup guru adalah teladan bagi muridnya. Maka menjadi sosok
yang bijaksana dalam pengambilan keputusan dilema etika yang dihadapi akan
menjadikan guru sebagai sosok yang bijaksana yang menjadi teladan bagi
muridnya. Keptusan yang bertanggungjawab dan membahagiakan berbagai pihak
disekitar guru akan mewujudkan kondisi yang baik dan terkendali sehingga mampu mewujudkan
pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid.
Nilai-nilai yang
tertanam dalam diri seorang guru sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang
diambil dalam pengambilan suatu
keputusan. Dimana nilai tersebut menyangkut 3 prinsip yaitu: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking): Memutuskan sesuatu dengan pemikiran yang
anda harapkan oranglain lakukan terhadap Anda
Sehubungan dengan
kegiatan Coachingyang harus mampu dilakukan oleh guru bertujuan untuk
mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Maka seorang guru harus
memiliki karakter baik dan menjadi teladan yang mengajarkan murid bagaimana melakukan
pengambilan keputusan yang dibuat melalui proses pertimbangan moral.
Keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang guru yang memilki nilai-nilai
kebaikan dalam dirinya akan mampu melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah
masyarakat melalui murid-murid mereka..Untuk memudah seorang guru dalam
pengambilan keputusan yang tepat yaitu keputusan yang berdampak pada
terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman seorang guru
harus memilki kemampuan coaching (pembimbingan). Salah satu model coaching yang
mudah untuk dipahami dan dijalankan adalah coaching model TIRTA yaitu salah
satu model coaching yang dikembangkan untuk dapat membantu seorang guru atau
coach dalam menuntun murid menemukan potensi yang dimilikinya dengan memanfaat
komunikasi positif melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dapat membuat
murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses
coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang
akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya. Coaching model
TIRTA itu sendiri adalah Tujuan, Identifikasi Masalah, Rencana Aksi dan Tanggung
jawab. guru agar mampu mengembangkan coaching model ini tentunya memiliki
kemampuan komunikasi efektif sehingga mampu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan
terbuka yang mampu menuntun murid dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
melalui coaching pengambilan keputusan yang telah diambil dapat direfleksikan
kembali sehingga menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan karena
setiap keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat
berpengaruh terhadap masa depan murid kita.
Seorang guru harus
memiliki kemampuan mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya agar mampu
menguasai dirinya dan mengontrol emosi didalam dirinya agar mampu melakukan
pengambilan keputusan yang tepat dalam permasalahan yang memperhadapkannya
dengan dilema etika. Selain itu, sesama rekan guru juga harus dibantu untuk
mengelola sosial dan emosionalnya agar mampu mewujudkan pembelajaran yang
berpihak pada murid. Begitu juga dengan siswa harus dibimbing dalam mengenal
dan mengelola aspek sosial emosional didalam dirinya agar hatinya merasa senang
dan bahagia dalam belajar. Sehingga akan terwujudnya pembelajaran yang
menyenangkan dan berpihak pada murid.
Dalam pembelajaran
tentang pengambilan keptutusan sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru
harus melihat apakah permasalahn yang dihadapinya merupakan dilemma etika atau
bujukan moral. Apabila yang dihadapi merupakan bujukan moral, maka guru tidak
perlu bingung karena pilihan yang dihadapi sudah sangat jelas yaitu antara
benar dan salah maka guru sudah tentu harus memilih keputusan yang benar. Namun
apabila diperhadapkan dengan pilihan benar versus benar atau yang dikenal
dengan dilema etik, maka guru harus membuat keputusan dengan memperhatikan dan
melewati sesuai dengan tahapan pengujian dan pengambilan keputusan. Pengambilan
keputusan yang tepat membuat berbagai pihak yang terlibat dalam permasalahan
tersebut merasa senang dan bahagia. Tentunya keadaan ini berdampak pada
terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Dalam melakukan
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya tidak mengalami kesulitan
yang berarti di lingkungan kerja saya. Karena adanya dukungan dari atasan dan
rekan. Kesulitan yang sering terjadi adalah ketika diperhadapkan dengan
kepentikan pribadi dan kepentingan bersama (orang banyak). Dalam hal ini saya cenderung
mengambil keputusan yang menguntungkan bagi diri saya sendiri. Kurangnya
objektivitas membuat saya belum mampu mengambil keputusan yang netral dan
menguntunglkan bagi semua pihak.
Pengambilan keputusan yang tepat dan benar yang diambil oleh seorang
guru akan menguntungkan siswa dan membuat hati siswa merasa gembira dalam belajar.
Tidak ada orang yang merasa diabaikan dan diperlakukan tidak adil sehingga
keadaan ini akan mampu mewujudkan pengajaran yang memerdekakan murid-murid dan
yang berpihak menguntungkan bagi murid. Pembelajaran yang menyenangkan bagi
murid akan membuat murid merasa bersemangat dan antusias dalam belajar sehingga
akan pembelajaran akan mampu membawa murid pada capaian pembelajaran sesuai
dengan yang diharapkan. Murid akan bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas,
mempunyai daya saing tinggi dan memiliki profil pelajar Pancasila didalam
dirinya.
Sebagai kesimpulan
akhir yang didapat dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan
modul-modul sebelumnya adalah bahwa Filosofi pendidikan oleh Ki Hadjar
Dewantara, pembelajaran Sosial emosional, pelaksanaan Coaching, dan pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, semuanya merupakan aspek penting yang
harus diimplementasikanoleh guru sebagai pemimpin pembelajaran agar mampu
mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murd. Pembelajaran
yang berkualitas dan mengutamakan kebutuhan dan keinginan murid dalam proses
pelaksanaan maupun capaian akhir pembelajarannya..