Rabu, 27 April 2022

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri 

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Salam bahagia buat seluruh rekan guru setanah air...

Semangat tergerak... bergerak... dan menggerakkan...

Salam dari saya Elina Dona guru SDN 95 Pekanbaru. Saya adalah calon guru penggerak angkatan 4.

Kali ini saya akan menulis tentang koneksi antar materi-materi yang telah saya pelajari dalam pendidikan calon guru penggerak.

Adapun Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara dikenal dengan pemikirannya  filosofi Pratap Triloka yang terdiri atas tiga semboyan yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa dan Tut wuri handayani. semboyan tersebut artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi, dan di belakang memberikan dukungan. Semboyan Tut wuri handayani dijadikan sebagai slogan Kementerian Pendidikan Nasioanal Indonesia. Makna dari semboyan tersebut adalah bahwa seorang guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan melainkan menjadi fasilitator bagi siswa dalam mencari pengetahuan. Harus mampu menjadi teladan, memotivasi, dan memberi dukungan sepenuhnya kepada muridnya dalam upaya mengembangkan potensi yang dimiliki murid sesuai dengan kodrat zamannya. Maka dalam hal ini, guru harus mampu mampu menjadi teladan baik dalam sikap, perbuatan dan perkataan. Seluruh hidup guru adalah teladan bagi muridnya. Maka menjadi sosok yang bijaksana dalam pengambilan keputusan dilema etika yang dihadapi akan menjadikan guru sebagai sosok yang bijaksana yang menjadi teladan bagi muridnya. Keptusan yang bertanggungjawab dan membahagiakan berbagai pihak disekitar guru akan mewujudkan kondisi yang  baik dan terkendali sehingga mampu mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang guru sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang  diambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dimana nilai tersebut menyangkut 3 prinsip yaitu: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking): Memutuskan sesuatu dengan pemikiran yang anda harapkan oranglain lakukan terhadap Anda

Sehubungan dengan kegiatan Coachingyang harus mampu dilakukan oleh guru bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Maka seorang guru harus memiliki karakter baik dan menjadi teladan yang mengajarkan murid bagaimana melakukan pengambilan keputusan yang dibuat melalui proses pertimbangan moral. Keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang guru yang memilki nilai-nilai kebaikan dalam dirinya akan mampu melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka..Untuk memudah seorang guru dalam pengambilan keputusan yang tepat yaitu keputusan yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman seorang guru harus memilki kemampuan coaching (pembimbingan). Salah satu model coaching yang mudah untuk dipahami dan dijalankan adalah coaching model TIRTA yaitu salah satu model coaching yang dikembangkan untuk dapat membantu seorang guru atau coach dalam menuntun murid menemukan potensi yang dimilikinya dengan memanfaat komunikasi positif melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya. Coaching model TIRTA itu sendiri adalah Tujuan, Identifikasi Masalah, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. guru agar mampu mengembangkan coaching model ini tentunya memiliki kemampuan komunikasi efektif sehingga mampu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mampu menuntun murid dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. melalui coaching pengambilan keputusan yang telah diambil dapat direfleksikan kembali sehingga menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan karena setiap keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap masa depan murid kita.

Seorang guru harus memiliki kemampuan mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya agar mampu menguasai dirinya dan mengontrol emosi didalam dirinya agar mampu melakukan pengambilan keputusan yang tepat dalam permasalahan yang memperhadapkannya dengan dilema etika. Selain itu, sesama rekan guru juga harus dibantu untuk mengelola sosial dan emosionalnya agar mampu mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Begitu juga dengan siswa harus dibimbing dalam mengenal dan mengelola aspek sosial emosional didalam dirinya agar hatinya merasa senang dan bahagia dalam belajar. Sehingga akan terwujudnya pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid.

Dalam pembelajaran tentang pengambilan keptutusan sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru harus melihat apakah permasalahn yang dihadapinya merupakan dilemma etika atau bujukan moral. Apabila yang dihadapi merupakan bujukan moral, maka guru tidak perlu bingung karena pilihan yang dihadapi sudah sangat jelas yaitu antara benar dan salah maka guru sudah tentu harus memilih keputusan yang benar. Namun apabila diperhadapkan dengan pilihan benar versus benar atau yang dikenal dengan dilema etik, maka guru harus membuat keputusan dengan memperhatikan dan melewati sesuai dengan tahapan pengujian dan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang tepat membuat berbagai pihak yang terlibat dalam permasalahan tersebut merasa senang dan bahagia. Tentunya keadaan ini berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dalam melakukan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti di lingkungan kerja saya. Karena adanya dukungan dari atasan dan rekan. Kesulitan yang sering terjadi adalah ketika diperhadapkan dengan kepentikan pribadi dan kepentingan bersama (orang banyak). Dalam hal ini saya cenderung mengambil keputusan yang menguntungkan bagi diri saya sendiri. Kurangnya objektivitas membuat saya belum mampu mengambil keputusan yang netral dan menguntunglkan bagi semua pihak.

Pengambilan keputusan  yang tepat dan benar yang diambil oleh seorang guru akan menguntungkan siswa dan membuat hati siswa merasa gembira dalam belajar. Tidak ada orang yang merasa diabaikan dan diperlakukan tidak adil sehingga keadaan ini akan mampu mewujudkan pengajaran yang memerdekakan murid-murid dan yang berpihak menguntungkan bagi murid. Pembelajaran yang menyenangkan bagi murid akan membuat murid merasa bersemangat dan antusias dalam belajar sehingga akan pembelajaran akan mampu membawa murid pada capaian pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Murid akan bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mempunyai daya saing tinggi dan memiliki profil pelajar Pancasila didalam dirinya.

Sebagai kesimpulan akhir yang didapat dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah bahwa Filosofi pendidikan oleh Ki Hadjar Dewantara, pembelajaran Sosial emosional, pelaksanaan Coaching, dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, semuanya merupakan aspek penting yang harus diimplementasikanoleh guru sebagai pemimpin pembelajaran agar mampu mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murd. Pembelajaran yang berkualitas dan mengutamakan kebutuhan dan keinginan murid dalam proses pelaksanaan maupun capaian akhir pembelajarannya..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri  Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran Salam bahagia buat seluruh rekan guru setanah air... Seman...